pelukis rindu



aku ingin merajut benang-benang rindu ini tuk menemanimu di kala siang dan malammu mulai terasa dingin

counter
counter

Kiamat kecil di alam semesta. Riuh. Bumi seakan tak mau kalah, saling memamerkan tahta dan mahkota, menghembuskan dingin, lalu dengan kejinya mengusik dedaunan yang hampir terlelap.

Bahkan Tuhan belum juga sempat mengenggelamkan matahari, saat titik-titik dari langit mulai berlomba menghampiri bumi seolah takut didahului malam. Satu di antara mereka itu milik kita.

Bersama gerimis, perih ini menyatu. Meski mata kita telah lama basah, jauh sebelum para penghuni cakrawala merencanakan pertarungan. Tak mengapa. Kesukaan kita ialah menangis bersama langit. Sebab pertarungan di atas sana selalu sengit sehingga tak akan ada yang mendengar hati ini menjerit.

Kiamat kecil di alam semesta, aku yakin sekali kitalah penyebabnya, letupan-letupan cinta yang masih membara. Jangan biarkan apapun melumpuhkan rindu. Sebab pendar-pendar rindulah yang akan memunculkan pelangi, suatu hari nanti.

Ditulis oleh @meilisatansil

Ibu

Suasana menegang. Terdengar teriakan histeris dari dalam ruangan itu, sesaat sebelum sebuah tangisan yang nyaring meledak dan dengan cepat menggantikan teriakan-teriakan yang kini sudah tidak terdengar lagi.

“Selamat, Ibu, anak Anda perempuan.”

Senyum mengembang di wajah wanita muda itu. Usianya baru menginjak dua puluh dua tahun November mendatang. Keringat bercucuran dari dahi ke pipi dan ke dagunya. Nafasnya belum stabil, tapi wajahnya bahagia sekali melihat seorang bayi perempuan montok menangis dalam dekapan seorang perawat.

***

“Ibu cantik sekali. Aku sayang Ibu. Aku ingin selamanya bersama Ibu.”

Gadis kecil itu menatap perempuan muda yang dipanggilnya Ibu itu. Matanya bulat, kulitnya putih, halus, cantik sekali. Ibu yang melindunginya sejak ia keluar dari tempat kediamannya yang nyaman, menyambut dunia yang penuh dengan kesulitan-kesulitannya sendiri.

“Nanti kalau sudah besar, kamu harus menikah dengan lelaki yang baik dan meninggalkan Ibu.”

“Tapi aku mau sama Ibu terus.”

“Tapi kamu akan pergi.”

“Tidak akan, aku selamanya sama Ibu. Janji.”

Di ujung matanya bermunculan titik-titik air yang entah dari mana, yang entah muncul karena diperintahkan oleh saraf yang mana. Gadis kecil itu menyodorkan kelingking mungilnya sebagai tanda janji.

***

“Ibu, aku akan pulang sebelum musim panas tahun ini. Kita akan merayakan ulang tahun Ibu. Tunggu aku. ”

Sudah setahun sejak kepergianku menuntut ilmu ke kota lain. Meski tiap hari mendengar suaranya di telepon, tetap saja aku merindukannya. Ibu, apa kabarmu di sana?


Mother, how are you today?

Here is a note from your daughter.

With me everything is ok.

Mother, how are you today?

Mother, don’t worry, I’m fine.

Promise to see you this summer.

This time there will be no delay.

Mother, how are you today?



Ditulis oleh @meilisatansil

Dalam proyek menulis #30HariLagukuBercerita

Ratusan amplop berwarna kopi susu telah mengarungi lautan dan samudra untuk menyampaikan cinta dan rindu yang telah sekian lama terpisahkan jarak. Sore ini, satu lagi amplop bertengger di meja tulisku. Kali ini bukan kopi susu. Warnanya putih gading terbingkai mawar-mawar kecil dari tinta emas. Di pojok kanan bawah terukir namaku dari tulisan tangan orang yang sangat kucintai.

Alfian,

Satu senja lagi berlalu. Ini surat keempat ratus empat puluh delapan yang kutulis untukmu. Kau tahu? Artinya pertemuan terakhir kita adalah empat ratus empat puluh sembilan hari yang lalu. Rasanya waktu lama sekali berlalu jika tanpamu. Segeralah kembali. Aku hampir tak dapat mengendalikan rinduku.

Sore ini aku membawa Fido jalan-jalan ke taman dekat rumahku. Dia sudah semakin besar sekarang. Mungkin sudah tak mengenali tuannya lagi. Ah, makanya cepatlah pulang! Kau pasti senang sekali melihatnya. Sekarang dia sudah pandai menangkap bola dengan mulutnya. Kelihatan girang sekali tiap kali berhasil membawa bola plastiknya kembali padaku. Kami bermain, bermain, dan bermain hingga puas. Setelah itu, kami duduk saja di taman, menunggui senja berganti malam.

Kau tahu, Sayang, setiap hari aku menghitung senja sebelum kepulanganmu. Berapa lama lagi sebelum semesta akan mempertemukan rindu yang selama ini hanya bisa kutitipkan sedikit-sedikit pada tinta yang dikeluarkan penaku di atas selembar kertas? Aku setiap hari berdoa agar Tuhan mewakiliku menjagai makhluk yang paling kucintai di dunia ini. Kau jauh di sana tak terjangkau oleh tanganku, tapi cinta dan doa-doaku akan selalu bersamamu.

Salam sayang,

Donna

Donna wanita yang cantik. Sangat lemah lembut. Sangat pengertian. Sangat baik. Aku sangat mencintainya… dulu. Tidak selalu kubalaskan surat-surat yang setiap hari berdatangan satu demi satu di mejaku. Sibuk. Itu satu-satunya yang bisa kukatakan pada Donna. Sebenarnya bukan itu. Kehadiran Arini di sisiku saat ini membuatku tak dapat lagi mencintai Donna sebesar yang kulakukan dulu. Kejam? Iya. Aku pun merasa begitu. Satu tahun tiga bulan bukan waktu yang sebentar. Kurasa aku telah pergi terlalu lama, dan kini aku mencintai seseorang yang baru. Donna, maafkan..

How can I say to you. I love somebody new.
You were so good to me always.
And when I see your eyes. I can’t go on with lie.
It breaks your heart, but I just can’t hide it.

Selamat menghitung senja sebelum kepulanganku. Saat aku kembali nanti, kuharap aku masih kebahagiaanmu, dan kamu masih kebahagiaanku, dan semesta akan menyaksikan kita akan saling mencintai lagi.



Ditulis oleh @meilisatansil

Dalam proyek menulis #30HariLagukuBercerita

Dia

Ini tulisan tentang dia yang pernah menempati tempat terindah dalam hatiku.

Dia yang kini berada sangat jauh dari jangkauanku, sangat jauh dalam pelukan wanita yang belakangan ini selalu membuat nafasku memburu karena cemburu. Dia yang pernah menyiramkan minyak dalam api cintaku yang berkobar-kobar, dan juga yang membentangkan lautan air mata di hadapanku. Dia yang pernah menghabiskan hari melukis kitab kenanganku dengan harapan, lalu mencoreng halaman-halamannya dengan dusta dan pengkhianatan. Dia yang pernah dicintai oleh hatiku, dan masih dicintai hingga saat-saat terakhir oleh setiap keping yang telah dihancurkannya.

 

 ***

“Kau tahu apa itu cinta?”

 “Apa?”

 “Aku pun tak tahu. Aku pernah mencari-cari apa arti cinta itu.”

“Tak kau temukan?”

“Ya. Dan sekarang cinta itu yang memberiku arti.”

Aku selalu senang berbicara dengannya. Sejak awal dia cocok untukku. Dia baik, penyayang pula. Tidak ganteng, tapi memiliki daya tarik. Tidak romantis, tapi dia bisa membuatku selalu tersenyum dengan caranya. Bukan orang berada, tapi bisa memberiku kehangatan yang kuharapkan dari seorang kekasih. Badannya tidak terlalu besar, tapi cukup kuat untuk menggendongku. Aku suka telapak tangannya yang lebar ketika menggandeng jari-jariku yang mungil. Aku suka lengannya yang kokoh ketika ia merangkul bahuku. Aku nyaman sekali jika ada di dekatnya.

“Kita akan menikah?”

“Tujuh tahun lagi.”

“Jadi berapa umur kita saat itu?”

“Aku dua puluh enam, kamu dua puluh lima.”

“Ah, aku akan menantikannya.”

“Mau punya berapa anak?”

“Tiga! Dua laki-laki, satu perempuan.”

Hal kecil apapun tentang dirinya selalu berhasil mencuri perhatianku. Hal kecil apapun yang dikatakannya selalu terekam di kepalaku. Hal sekecil apapun yang dilakukannya selalu membuatku bahagia. Aku suka caranya memandangku. Aku suka ketika dia mengatakan sayang padaku. Aku suka bermanja hanya padanya. Aku senang menciptakan kosakata baru untuk kami pakai berdua. Aku suka caranya memelukku. Dan aku paling suka disuapi bubur saat sakit dan digendong ke kamar dan diselimuti lalu diberi kecupan selamat malam. Aku suka dia apa adanya. Dia itu kesayangannya aku.

Tapi itu dulu. Sebelum semua yang asin menjadi tawar, dan sebelum semua yang manis berubah pahit. Sebelum sunyi menghampiri malam saat satu kembali menjadi dua dan saling mengucapkan perpisahan. Di dalam sebuah buku berjudul kenangan, tertinggal sebuah kisah tak sempurna, tentang kami yang tak bisa menyatu. Kami yang saling candu, dan terlalu angkuh untuk mengakui rindu.

“Peduli apa dengan cinta? Ia terlalu pengecut untuk mempertahankan kita.”

“Cinta bukan pengecut, sayang! Ia hanya belum cukup besar untuk berjuang.”

“Lalu kenapa harus kau pertahankan cinta? Jika ia tak cukup besar untuk memperjuangkan kita.”

“Kenapa harus kau bunuh cinta? Bunuh saja ego itu yang terlalu durhaka menghapuskan kita.”

Perpisahan itu malang yang tak pantas untuk dikenang. Masa lalu itu luka yang tak pantas untuk dibuka. Kami itu harapan yang tak pantas untuk diperjuangkan.

“Aku rindu kau. Aku rindu kenangan kita.”

“Lalu kita bisa apa?”

Sama. Aku juga rindu kau. Tapi kita bisa apa? Kau sudah ada yang punya. Aku tak tahu di mana kita harus sembunyikan rindu-rindu ini. Jika mereka selalu punya cara untuk saling menemukan.

Lalu di penghujung rindu aku menyaksikan bayang-bayang dirinya meredup tertelan masa lalu, dan aku yang habis terbakar api cemburu. Dengan mulut yang sama dia mengucapkan cinta pada wanita yang bukan aku.

 


Ditulis oleh @meilisatansil

Dalam proyek menulis #30HariLagukuBercerita

“Aduh!”

BUK! Dila terjatuh ditimpa bongkahan badan besar sesaat sebelum Dila merintih kesakitan. Seluruh badannya merapat di aspal.

“Aduh sakit,” rintih Dila. Manusia yang menimpanya belum juga bangkit. Badannya berat sekali. Dila sama sekali tidak bisa bergerak. Dila berusaha bersuara dengan sisa-sisa tenaganya.

“Tolong…”

***

“Apa? Jadi kontrak Papa diperpanjang dua bulan? Tapi minggu depan aku udah harus kembali ke Jepang, Ma.. Dila sendirian di rumah?”

“Gimana ya.. Apa Dila pindah sekolah aja ke Merauke?”

“Ke Merauke?”

Merauke? Dila yang sedang meneguk susunya tiba-tiba tersedak dan batuk-batuk mendengar perkataan kakaknya di telepon barusan. Dia baru saja masuk SMP dan baru satu bulan bersekolah di sekolah barunya, masa harus pindah sekolah lagi? Ikut kerjaan Papa memang berat, selalu pindah dari satu daerah ke daerah lain. Bayangkan saja dalam 8 tahun menuntut ilmu, Dila sudah lima kali pindah sekolah. Sekolah baru kan artinya teman baru. Artinya harus menyesuaikan diri lagi. Padahal Dila sudah punya Fika, sahabat terbaiknya sejak Dila menapakkan kaki di kota ini. Lagipula Dila kan sudah SMP. Bukan anak kecil lagi.

“Kak, coba aku mau bicara sama Mama..” Dila mengambil gagang telepon yang disodorkan kakaknya. “Halo Ma..”

“Dila, kontrak Papa diperpanjang dua bulan…”

“Iya, udah dengar, Ma. Intinya Dila gak mau pindah sekolah lagi. Dila kan udah SMP, Ma. Udah bisa ditinggal-tinggal kok.”

“Tapi kan, nanti kamu di rumah sendirian loh. Yakin bisa bangun pagi sendiri? Siapin sarapan sendiri? Beresin rumah sendiri?”

Ah iya juga.. Bi Tina kan lagi mudik karena anaknya sakit di kampung. Dila bisa menyapu, mencuci, tapi memasak?

“Gampang lah, Ma. Dila beli makanan ke warung sebelah aja tiap hari.”

“Kamu tetap gak boleh tinggal sendirian di rumah. Papa gak bakal kasi izin.”

“Ah, Mama… Pokoknya Dila gak mau ke Merauke.”

***

Setelah berunding, akhirnya mereka memutuskan untuk menitipkan Dila di rumah saudara Mama sampai Papa dan Mama kembali ke Makassar. Katanya, saudara Mama akan menjemput Dila hari ini, sekalian mengantar Kakak ke lapangan terbang. Dina, usianya tujuh tahun lebih tua dari Dila. Kakak semata wayangnya Dila. Kesayangannya Dila. Dina kuliah di Jepang, bukan karena orang tuanya cukup mampu membiayai pendidikan di Jepang yang serba mahal, tetapi karena Dina cukup pandai untuk mendapatkan beasiswa ke Negeri Sakura itu. Dila sudah selesai berbenah ketika mobil Om Irfan memasuki halaman rumah Dila.

“Halo Om,” sapa Dila ketika Om Irfan menampakkan diri dari balik pintu mobil.

“Hai, sudah siap? Dina mana?” suara Om Irfan berat, agak serak, tapi tidak menunjukkan sifat galak sama sekali. Sebelum Dila sempat menjawab, Dina sudah muncul di ambang pintu menyeret dua koper besar, satu miliknya dan satu lagi kepunyaan Dila.

“Halo, Om,” sapa Dina sambil nyengir menampakkan deretan gigi putih kecil-kecil yang berbaris rapi.

“Berangkat sekarang?”

“Iya, Om,” ucap Dina dan Dila hampir bersamaan.

Perjalanan ke bandara hanya memakan waktu 45 menit. Rumah mereka memang tidak terlalu jauh dari bandara. Dan jalanan yang dilewati, untung saja, tidak macet. Dila paling malas berlama-lama duduk di dalam mobil. Sepanjang perjalanan Dina yang duduk di kursi depan mengobrol dengan Om Irfan, tentang pendidikan di Jepang, kehidupan, dan pergaulannya. Sesekali Om Irfan menanyakan sekolah Dila. Beliau tipe orang yang supel dan mudah mencairkan suasana. Meski jarang bertemu, Dila merasa nyaman mengobrol dengan Om Irfan.

“Jam berapa pesawatnya, Na?” tanya Om Irfan begitu selesai memarkir mobil di parkiran gedung keberangkatan luar negeri.

“1,5 jam lagi nih, Om.”

Dila membantu menurunkan koper kakaknya dari bagasi belakang mobil. Perpisahan sudah di ambang mata. Kakaknya tidak akan pulang dalam 12 bulan ke depan. Sedih juga memikirkannya. Apalagi Papa dan Mama lagi di luar kota. Dila pasti kesepian. Ini pertama kalinya ia ditinggal pergi semua keluarga dekatnya. Meski Dila nantinya tinggal di rumah Om Irfan tentu rasanya akan berbeda. Om Irfan punya empat orang anak, yang bungsu seumuran Dina. Karena itulah Dila tidak terlalu mengakrabkan diri dengan sepupu-sepupunya itu. Usia mereka terpaut terlalu jauh.

“Hati-hati ya, Kak. Jangan lupa bawa pulang cowok Jepang yang ganteng-ganteng,” ucap Dila sesaat sebelum Dina memasuki gerbang keberangkatan.

“Ih genit sekali ya, kamu. Belajar aja baik-baik biar nanti bisa ke Jepang juga sama aku.”

“Hehehe. Malessssssss..”

“Kalo males-males ntar aku bilang Papa biar kamu langsung dikawinin aja, gak usah sekolah,” ucap Dina disambut gelak tawa Om Irfan.

“Nanti Om bantu carikan calonnya ya, La.”

“Ah, jangan. Dila kan mau ngerasain yang namanya kuliah sambil merantau juga.”

“Ya udah, Dina pamit dulu ya, Om, titip Dila ya,” ucap Dina kepada Om Irfan, lalu berpaling ke Dila, “Kamu, kalo gak mau dikirim ke Merauke, jangan nakal-nakal di rumah Om Irfan.”

“Oke, hati-hati ya, Na. Belajar yang baik!” kali ini Om Irfan sungguh-sungguh.

“Dahhh Kakakkkkk,” Dila melambai-lambai melihat kakaknya yang berjalan menjauh sambil masih menoleh ke arah mereka.

***

Dila sangat betah di rumah Om Irfan. Tante Ria sangat baik. Dia sama sekali tidak menganggap Dila merepotkan. Kakak sepupunya juga tidak ada yang cerewet terhadapnya. Mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing. Rio, anak sulung Om Irfan. Usianya 12 tahun di atas Dila. Dia sudah punya bisnis sendiri. Setiap hari, kecuali akhir pekan dan hari libur, dia pergi ke pabrik pagi-pagi dan baru pulang sore hari. Risna, usianya dua tahun lebih muda daripada Rio, tapi sama saja sibuknya. Namun berbeda dengan Rio yang memilih mulai berbisnis sendiri, Risna lebih memilih bekerja di perusahaan. Ririn, hanya setahun lebih muda dari Risna. Ririn masih kuliah dan sedang sibuk sekali menyusun skripsi. Anak bungsu Om Irfan, Randi, dua tahun lebih muda dari Ririn. Masih kuliah juga. Selain Randi, anak-anak Om Irfan yang lain jarang sekali berada di rumah, kecuali saat akhir pekan atau hari libur, barulah rumah ramai karena semuanya berkumpul. Randi anaknya pendiam sekali, lebih sering mengurung diri dalam kamar. Tetapi itu pertanda baik buat Dila, karena artinya Dila tidak perlu sering-sering bertemu orang rumah. Bagaimanapun juga, hidup menumpang itu rasanya tidak enak sekali. Meski semua bersikap baik terhadap Dila, tetap saja Dila merasa merepotkan keluarga Om Irfan. Makanya sebisa mungkin Dila tidak banyak meminta apa-apa. Yang disediakan Tante Ria, itu saja yang dipakainya, itu saja yang dimakannya. Dila tersentak kaget saat seseorang berbadan besar muncul di balik pintu kamarnya.

“Eh, sorry, La. Aku lupa kamar ini ada yang tempatin,” ucap Randi canggung karena merasa bersalah tidak mengetuk pintu terlebih dulu, “Aku mau ngambil itu, boleh masuk?” Randi menunjuk sebuah speaker yang menganggur di atas meja yang selama dua hari ini digunakan Dila untuk mengerjakan PR.

Lupa? Astaga, kakak yang satu ini benar-benar cuek. Jadi, selama dua hari ini, dia lupa kalau Dila menginap di rumahnya. Padahal mereka berdua yang paling sering ada di rumah, meski sangat jarang bertemu.

“Eh? Iya, Kak. Masuk aja,” Dila yang sedang bersandar di tempat tidur sambil membaca komik memperbaiki posisi duduknya agar lebih sopan.

“O iya, kata Mama, di meja makan ada pisang goreng, kalo-kalo kamu laper,” kata Randi sambil mengangkat speaker itu keluar kamar dan menutup pintu sebelum Dila sempat menjawab.

***

“Dahhh Dilaaa,” Fika melambai-lambai sambil naik ke mobilnya. Dila balas melambai sampai mobil Fika tidak kelihatan lagi. Sekolah sudah mulai sepi. Hanya tersisa beberapa teman yang tidak dikenal Dila. Bosan sekali. Tidak ada yang bisa diajak mengobrol. Jangan-jangan Randi lupa menjemputnya. Dila tidak bisa memikirkan kemungkinan lain yang lebih buruk. Randi kan memang pelupa. Bagaimana kalau dia benar-benar lupa? Dila tidak boleh pulang sendiri hari ini. Memang biasanya Dila berangkat dan pulang sekolah sendirian naik bis. Tapi hari ini Om Irfan meminta Randi menjemput Dila. Terpilihnya gubernur baru Makassar menuai kontroversi dan kata Om Irfan hari ini akan banyak mahasiswa akan berdemo di sepanjang jalan. Sudah satu jam Dila menunggu. Lapar sekali. Kesal juga. Sudah hampir tidak ada orang. Kantin sekolah pun sudah tutup. Akhirnya, Dila memutuskan untuk membeli roti saja ke warung yang hanya beberapa petak letaknya dari sekolah. Toh, bukan salah Dila kalau dia lapar. Randi yang terlambat menjemputnya.

“Rotinya masih baru kan, Bi?”

“Iya, Neng. Baru datang tadi pagi kok.”

“Berapa?”

“Lima ribu.”

Dila menyerahkan selembar uang lima ribuan dan tanpa basa basi lagi langsung membuka bungkus roti dan menggigitnya sambil berjalan kembali ke sekolah. Tapi tiba-tiba saja ada yang menarik tas Dila.

“Eh?” Dila yang sedang mengunyah roti tersentak kaget karena yang menarik tasnya itu laki-laki besar, hitam, berambut panjang keriting, dan brewokan. Seram sekali. Dila tentu saja mempertahankan tasnya. “Mau apa?”

Tapi lelaki itu tetap saja menarik tas Dila, sekarang dengan paksaan. Dila yang tidak mau melepaskan tasnya, terdorong jatuh sambil masih memegangi ujung tasnya. Dengan mulut penuh roti yang belum sempat ditelannya, Dila berusaha berteriak minta tolong. Tetapi jalanan sudah sepi sekali. Dia tidak yakin ada yang mendengarnya. Melihat mangsanya berteriak seperti itu, lelaki hitam itu langsung saja berjongkok dan menutup mulut Dila dengan tangannya yang besar. Dan bau. Tas Dila sudah dilepaskannya, tapi yang menjadi sasaran kali ini bukan lagi tas Dila, tapi Dila. Sambil tetap menutup mulut Dila, lelaki it menyeret Dila menjauhi warung dengan tangannya yang lain. Dia kuat sekali. Sekuat apapun Dila meronta berusaha melepaskan diri, sia-sia. Dila sudah menangis membayangkan nasibnya. Entah siapa pria mengerikan ini. Entah apa yang akan diperbuatnya pada Dila. Tuhan. Iya, Tuhan bisa menolong. Tuhan, tolong Dila. Kirimkan seseorang untuk menolong…

“Aduh!”

BUK! Dila terjatuh ditimpa bongkahan badan besar sesaat sebelum Dila merintih kesakitan. Seluruh badannya merapat di aspal.

“Aduh sakit,” rintih Dila. Manusia yang menimpanya belum juga bangkit. Badannya berat sekali. Dila sama sekali tidak bisa bergerak. Dila berusaha bersuara dengan sisa-sisa tenaganya.

“Tolong…”

“Dila!” itu suara Randi! Dila mengenalnya meski hanya beberapa kali mendengar dia bersuara. Dila melihat dari ujung matanya, Randi melemparkan kayu yang dipakainya memukul leher lelaki yang tadi menyeret-nyeretnya. Rupanya akibat perbuatan Randi itulah, lelaki itu pingsan dan menimpa Dila. Randi menyingkirkan tubuh orang itu dari Dila dan megangkat kepala Dila, menyenderkannya di lengannya.

“Kamu gak papa? Bisa berdiri?”

“Sakit, Kak,” Dila setengah sadar.

“Yang mana? Apanya?” Randi panik sekali. Dia menggendong Dila ke mobil. Dan detik berikutnya Dila sudah kehilangan kesadarannya.

***

Hari sudah sore saat akhirnya Dila sadar. Seluruh badannya pegal sekali. Matanya berkunang-kunang. Tempat ini sejuk sekali, tapi badannya ditutupi sesuatu yang hangat. Dila membuka matanya pelan-pelan.

“Sudah sadar!” Terdengar beberapa langkah kaki mendekat.

“Dila?” Dila mengerutkan dahinya sambil berusaha mengenali orang yang menyebut namanya barusan. Tante Ria sedang duduk di sisi tempat tidurnya. Dan Dila kemudian baru tersadar dia sudah mengenakan piyama bersih.

“Ya, Tante…”

“Sakit?”

“Agak perih..”

“Iya, tadi lecet-lecetnya Tante kasi obat..”

Di sebelah tempat tidur Dila, berdiri Om Irfan, Ririn, dan Randi. Diam saja.

“Laper gak? Kamu belum makan siang, kan?” Om Irfan membuka suara.

“Eh? Iya, Om,” Dila baru merasakan perutnya yang kosong.

“Aku ambilkan buburnya ya,” Ririn beranjak keluar kamar sesaat sebelum Dila mengucapkan terima kasih.

***

“Udah enakan?” suara Randi terdengar beberapa detik setelah suara pintu terbuka. Randi mendekat dan duduk di sisi tempat tidur Dila.

“Eh? Udah, Kak. Udah gak papa,” Dila mengubah posisi dari berbaring menjadi duduk. Dadanya mendadak berdebar-debar tidak karuan.

“Maaf ya, tadi jemputnya telat,” Randi menatap lecet-lecet di pipi Dila yang memerah. Sorot matanya terlihat sedih sekali. “Mahasiswa kampusku ikut berdemo, keluar parkiran aja susahnya ampun-ampunan.”

Dila diam saja mengamati wajah kakaknya itu. Ada perasaan aneh yang menjalari sekujur tubuhnya.

“Aku panik sekali waktu satpam bilang udah gak ada orang di sekolah,” Randi melanjutkan. “Terus aku ngeliat pria hitam itu nyeret kamu. Aku gak bisa mikir apa-apa lagi selain gimana caranya ngelawan. Badan dia besar sekali.”

Memang. Dan dia menimpa Dila yang kecil kurus itu.

“Untung aja ada kayu patahan kursi warung. Itu yang aku pake mukul leher belakangnya sampai pingsan terus nimpa kamu. Maaf banget ya..”

“Ngg..” Dila jadi bingung mau menjawab apa. Perasaannya aneh. Tidak biasanya dia berdebar-debar seperti itu. Entah seperti apa warna pipinya sekarang. “Gak papa kok, Kak. Sebenernya ini salah aku juga. Kalo aku gak jajan ke warung sebelah, pasti kejadian kayak gini gak bakal terjadi.”

“Iya sih, tapi kan kamu jajan karena laper kelamaan nunggu aku..”

“Tapi untung aja ada kakak yang nyelametin aku. Kalo gak, gak tau nasib aku kayak gimana deh..” Dila berusaha meyakinkan Randi bahwa dia tidak sepenuhnya salah. “Makasih ya, Kak..”

Randi tersenyum sedikit.

“Ya udah, sekarang kamu istirahat ya..” Randi membelai kepala Dila.

Deg. Jantung Dila berhenti sejenak, lalu memompa kembali semangat sekali. Randi beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu tanpa menoleh lagi.

“Makasih ya, Kak..” ucap Dila tulus, senang.

“Sama-sama,” Randi menoleh sejenak lalu mengedipkan mata dan berjalan keluar kamar. Itulah pertama kalinya Dila merasakan menyukai seseorang seperti ini. Rasa suka yang lain daripada yang lain. Rasa suka yang bukan seperti yang dirasakannya kepada Fika. Bukan seperti rasa sukanya kepada Mama. Bukan juga seperti kepada Papa. Bukan seperti kepada Dina. Ini bukan rasa suka seorang adik kepada kakaknya. Ini…. CINTA.

Ditulis oleh @meilisatansil

Dalam proyek menulis #30HariLagukuBercerita